Perempuan “harus” Memilih Perempuan

Perempuan.. yess!!
Perempuan memilih Perempuan!!
Slogan “perempuan memilih perempuan” merupakan slogan yang selalu terdengar dalam pembukaan atau penutupan acara-acara yang diselenggarakan organisasi politik perempuan. Slogan tersebut diucapkan dengan suara bersemangat oleh pemimpin pertemuan sembari mengangkat tangan kanan dengan telapak tangan terkepal tinggi-tinggi. Peserta pertemuan akan menyambut semangat slogan yang diucapkan pemimpin pertemuan. Jika sambutan peserta kurang semangat, pemimpin akan mengulang slogan tersebut sampai sambutan peserta cukup memanaskan suasana.

can you buy viagra over the counter in canadaget best site to buy viagra online australia on the internet user reviews with buy generic viagra online with mastercard buy cheap viagra online in canada master card buy viagra without prescription online getting prescription medication purchase viagra online reviews on the internet considering paypal viagra 100mg pills buy generic levitra in usa levitra cheap levitra generic universal levitra generic levitra online canada consumer reviews order levitra over the counter choosing levitra buy cheap viagra online in canada reasonably priced genuine kamagra buy generic levitra 20mg pills buy cheap cialis discount online chemist cheap cialis online canada quebec purchase cialis very lowwhere can i buy cialis online us cialis buy generic cialis online cheap stock-standard cialis buy generic cialis online usa stock-standard where to buy generic cialis online

Slogan itu bukan slogan kosong belaka. Slogan itu dipilih untuk membangkitkan kesadaran dan semangat politik perempuan. Sejak Indonesia meratifikasi Konvensi tentang Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) pada tahun 1979 dengan mengesahkan Undang-undang No. 7/1984 partisipasi politik perempuan disahkan secara legal formal. Bahkan, melalui UU No 2/2007 tentang partai politik, partisipasi perempuan didorong agar setidaknya mencapai jumlah 30 persen keterwakilan perempuan. Secara sederhana, setidaknya perempuan mencapai 30 persen dari seluruh anggota DPR. Partisipasi politik perempuan merupakan keharusan di negeri ini.

Lantas, mengapa slogan itu masih perlu dikumandangkan pada setiap perempuan? Bukankah sudah cukup terbuka jalan bagi perempuan untuk memasuki arena politik? Ini karena pada kenyataannya partisipasi perempuan di bidang politik masih rendah. Secara nasional pada tahun 2008 baru 11,3 persen perempuan yang menduduki kursi DPR/MPR.
Hal yang sama terjadi di kota bogor. Jumlah perempuan yang menjadi anggota DPRD Kota Bogor pada periode 2009-2014 adalah 8 orang dari 45 orang anggota DPRD atau 17,8 persen dari seluruh anggota DPRD. Angka ini di atas angka rata-rata nasional namun masih jauh di bawah 30 persen.

Perempuan: Memilih dan Dipilih
Sistem demokrasi di Indonesia tidak membedakan pemilih berdasarkan jenis kelamin. Pemilih laki-laki dan perempuan, tua dan muda, berpindidikan rendah maupun tinggi dianggap sama. Sistem yang dikenal dengan istilah one man one vote ini membuka peluang bagi perempuan untuk menjadi kekuatan politik sama besarnya dengan laki-laki. Jumlah perempuan di Kota Bogor 447.415 orang atau 49,43 persen dari seluruh penduduk Kota Bogor (BPS, 2007). Dari jumlah tersebut, penduduk perempuan Kota Bogor yang terdaftar sebagai pemilih adalah 306.517 jiwa atau 49,52 persen dari seluruh pemilih terdaftar. Kekuatan politik perempuan dalam Pemilu sama besar dengan laki-laki.

Tidak hanya masalah jumlah, keberimbangan kekuatan ini juga meliputi masalah sebaran. Jumlah yang berimbang antara pemilih laki-laki dan perempuan terdapat di seluruh wilayah kecamatan di Kota Bogor. Ini menunjukkan pemilih di setiap Daerah Pemilihan (Dapil) memiliki komposisi pemilih laki-laki dan perempuan yang hampir sama.

Kekuatan tidak ada artinya jika tidak digunakan. Berkaca dari pengalaman Pemilu tahun 2009, tidak ada perbedaan kesadaran memilih antara laki-laki dan perempuan. Data Pemilu Legislatif menunjukkan, jumlah pemilih terdaftar dalam DPT yang menggunakan hak pilih dan yang tidak menggunakan hak pilih berimbang antara laki-laki dan perempuan, bahkan perempuan lebih memiliki kesadaran untuk menggunakan hak suara. Perempuan yang menggunakan hak pilih tercatat 50,5 persen atau 0,5 persen lebih banyak daripada laki-laki yang menggunakan hak pilih. Begitupula dengan jumlah pemilih perempuan terdaftar di DPT yang tidak menggunakan hak pilih. Pemilih laki-laki yang tidak menggunakan hak pilih mencapai 53,6 persen atau 7,2 persen lebih tinggi daripada jumlah pemilih perempuan yang tidak menggunakan hak suara.
Data di atas menunjukkan perempuan memiliki potensi memilih yang sangat besar. Sama besarnya dengan laki-laki. Lalu, mengapa jumlah anggota legislatif perempuan masih terbatas? Apakah tidak ada calon anggota legislatif perempuan?

Jumlah bacaleg perempuan pada Tahun 2009 tercatat 644 bakal caleg (bacaleg) yang dinyatakan lolos verifikasi, yang terdiri dari 434 orang caleg laki-laki dan 210 orang caleg perempuan. Jumlah tersebut diperoleh dari 36 parpol peserta Pemilu 2009 yang mendaftarkan bakal calegnya. Jumlah ini menunjukkan ada banyak perempuan yang dapat dipilih sebagai wakil perempuan di lembaga legislatif.

Jumlah pemilih perempuan yang merata pada setiap kecamatan juga membuka peluang perempuan untuk dipilih. Sistem pemilihan berdasarkan daerah pemilihan (dapil) membuka caleg untuk meraup suara dari daerah pemilihannya sendiri. Tentunya ini menguntungkan bagi perempuan karena hanya ada 32,61 persen caleg perempuan berbanding dengan 49,52 pemilih perempuan. Bandingkan dengan 67,39 persen caleg laki-laki yang berbanding dengan 50,48 persen pemilih laki-laki. Perempuan memiliki peluang yang sangat besar untuk memilih perempuan dan dipilih oleh perempuan

Perempuan “harus” Memilih Perempuan
Namun kenyataannya jumlah perempuan yang dapat menjadi anggota DPRD tidak merepresentasikan jumlah pemilih dan jumlah caleg perempuan. Angka 17,8 persen bagi anggota DPR perempuan jauh di bawah jumlah pemilih yang sama dengan pemilih laki-laki. Ini menunjukkan, pemilih perempuan tidak memberikan suaranya untuk caleg perempuan.
Duduknya perempuan menjadi anggota DPRD merupakan indikator keterwakilan kepentingan perempuan di ranah perumusan kebijakan. Dengan adanya anggota dewan berjenis kelamin perempuan diharapkan mampu mengusung keadilan dan kesetaraan gender dalam setiap bidang dalam pembangunan daerah. Adanya perempuan merupakan representasi dari kebutuhan, informasi dan kekuatan politik yang pada akhirnya ditujukan untuk membangun kesejahteraan yang berkeadilan gender.

Atas dasar pertimbangan itu, dirasa perlu untuk mendorong perempuan duduk sebagai anggota dewan legislatif. Jumlah 30 persen merupakan jumlah yang ditetapkan melalui advokasi panjang dan berliku dari berbagai pihak untuk menjamin keterwakilan kepentingan perempuan di ranah pengambilan kebijakan. Melalui pintu yang telah dibuka lebar ini, perempuan diundang untuk berperan dalam pengambilan keputusan.

Namun, fenomena di kota bogor dan juga di daerah-daerah lain menunjukkan pintu itu belum sepenuhnya digunakan oleh perempuan itu sendiri. Bukan karena tidak ada perempuan yang mengajukan diri sebagai anggota legislatif namun karena pemilih perempuan belum merepresentasikan pilihannya pada perempuan. Ini sebabnya mengapa dari 210 caleg perempuan di Kota Bogor hanya terpilih 17 orang anggota DPRD.

Slogan perempuan memilih perempuan masih diperlukan untuk dikumandangkan.
Perempuan.. yess!!
Perempuan, memilih perempuan!!

Agustina Purnomo
Artikel ini dimuat di Harian Radar Bogor, 10 Mei 2010

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.