Saat ini aku sedang mengikuti pelatihan menulis narasi yang diadakan PT. Eka Tjipta Foundation (ETF). Pelatihan menulis narasi yang kuikuti sangat menarik. Ini ternyata sama dengan pelatihan menulis narasi yang diadakan oleh Yayasan Pantau dengan biaya Rp. 4.000.000,-. Namun karena disubsidi oleh PT. ETF maka kursus ini menjadi gratis.

Sebentar bicara tentang PT. ETF, ini adalah lembaga nirlaba yang didirikan oleh Group Sinarmas. PT. ETF berkantor di gedung yang sama dg tempat pelatihan. Kantor yang bersih, wangi, dingin, dengan perabotan yang “mewah” menurut ukuranku.

Hari sabtu kemarin adalah hari pertama pelaksanaan kursus. Aku datang paling awal karena numpang suami yang akan pergi kuliah. Sampai sana pertama aku dikejutkan oleh gedungnya, menara BII tower 2 lt 39 di Jl. MH. Thamrin. Waw, mewah sekali. Begitu sampai di ruangan pukul 8.20, panitia sudah mulai menyiapkan ruangan. Awal yang bagus. Ini lumayan mengikis ketakutanku akan pendapat seorang teman bahwa pelatihan semacam itu paling pelatihan ecek-ecek dari lembaga yang ngabisin anggaran proyek. Memasuki ruangan, ketakutanku semakin menipis. Setting ruangan juga menunjukkan setting pelatihan yang egaliter sekaligus menunjukkan panitia mengerti konsep pelatihan. Setelah peserta lain berdatangan aku semakin yakin dengan pelatihan ini. Peserta pelatihan berasal dari LSM, organisasi-organisasi pemuda dan universitas termasuk mahasiswa yang secara subyektif hatiku mengatakan, “asik”.

Rasa senangku semakin memuncak ketika pukul 9.30 kita sudah diminta mengisi absen dan mendapat satu kantung penuh buku dan modul. Kutaksir isi kantong itu bisa mencapai Rp. 350,000. Ternyata itu belum apa-apa. Tebak, buku apa yang kuperoleh? Jurnalisme Sastrawi (kumpulan artikel beraliran jurnalisme sastrawi dari Yayasan Pantau) yang diedit salah satunya oleh Andreas Harsono, 9 elemen jurnalisme Bill Kovack, Andai aku seorang wartawan Tempo, dan setumpuk artikel hasil download dari internet. Semuanya bernafas sama, jurnalisme yang memiliki ruh.

Klimaksnya kudapat ketika Andreas bicara. Wahhh…. orang ini bisa membuat aku rela bolak-balik Bogor-Jakarta untuk hanya mendengar dia bicara. Pemateri lainnya ada Anugerah Perkasa dari Bisnis Indonesia dan Fachri yang keduanya termasuk wartawan “luar biasa” (kesan pertamanya begitu sih…; luar biasa diartikan beda dengan biasa).

Tugas pertama adalah membuat deskripsi. Kalau teman-teman ada yang berminat ikut exercise, ini exercise-nya:

Pekerjaan rumah: Buatlah sebuah deskripsi, 250 kata, tentang suatu ruang atau seseorang atau keduanya. Rekam dengan mata, telinga, hidung dan perasaan. Gunakan kalimat aktif namun jangan takut pada kalimat pasif. Perhatikan nama. Kenali semua nama, benda mati maupun hidup, dalam deskripsi Anda. Minggu depan akan dibaca bersama. Buatlah fotokopi sesuai jumlah peserta dalam kelas Anda. Bacalah ”Get the name of the dog” dari Roy Peter Clark (bisa google di internet). Setiap minggu, minimal dua peserta akan dibahas pekerjaannya. Semua peserta wajib mengerjakan PR ini.

Satu kalimat yang mewakili semua deskripsiku akan pelatihan ini, “Aku beruntung”.

Agustina Purnomo

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.