Ini caraku membuat deskripsi. Mudah-mudahan berguna.

Bakso Mas Ndut

Abang bakso itu dengan semangat menggoyangkan botol saus ke mangkok yang berisi bakso lengkap. Dengan gerakan perlahan, si abang membuka tutup panci kuah bakso, digoyangkannya sedikit tutup panci itu seolah tidak sengaja. Padahal, gerakan tidak sengajanya itu menggerakkan udara di atas panci dan mengantarkan uap kuah bakso ke hidungku. Hmmmmm…

Abang bakso yang biasa kita panggil Mas Ndut itu bukan tukang bakso sembarangan. Aku mesti menunggu satu tahun agar bisa menghirup wangi kuah baksonya setiap hari. Mas Ndut dengan gerobaknya mangkal di jalan raya samping sekolahku, di sisi yang hanya bisa dicapai oleh anak kelas dua. Jika anak kelas satu ingin membeli bakso Mas Ndut, harus ada sekarung nyali untuk melewati lorong menakutkan yang berisi tatapan menyelidik anak kelas dua. Berani menatap mata mereka berarti siap berhadapan dengan tatapan sinis, sindiran sampai cap sebagai “cari mangsa” dari mereka. Selama jadi anak kelas satu, kita harus puas dengan kantin pinggir aula di depan lorong kelas satu A sampai E, kantin milik ibu penjaga sekolah yang hanya menyediakan gorengan dan mie rebus.

Satu hari dalam seminggu kalau beruntung anak kelas satu bisa beli bakso Mas Ndut. Hari Rabu, hari sakral buatku, karena hari itu ada jam olah raga yang kadang diisi oleh kegiatan olah raga di stadion kabupaten. Olah raga itu ditambah dengan guru olah raga yang sama sekali jauh dari ambang batas toleransi cowok yang bisa dikecengin bener-bener gak ada apa-apanya. Tapi.. itu berarti anak kelas satu akan bisa melalui pagar sekolah dan menemui Mas Ndut tanpa harus melalui lorong kelas dua. Memesan bakso, melengkapi bakso dengan saus, kecap, dan sambalnya harus dilakukan dengan cepat-cepat. Telat sedikit anak kelas dua sudah keluar dari kelas dan tatapan mereka bisa menembus pagar sekolah dan membuat keinginan menikmati bakso Mas Ndut hanya tinggal khayalan.

Perjuangan tidak berhenti di situ. Mas Ndut itu abang bakso yang punya kepercayaan diri tinggi. Mungkin kalau ada ukurannya dia dapat angka 90 dalam rentang ukur 1-100. Mas Ndut yakin benar kalau baksonya enak dan akan membuat anak-anak berseragam abu-abu itu akan tetap membeli tanpa harus menghiraukan rengekan mereka tentang permintaan tambah baksonya, sayurnya, mienya, bihunnya, kuahnya, seledrinya apapun yang pada dasarnya cuma menutupi niat sebenarnya, mendapatkan porsi lebih besar dengan harga yang sama. Mas Ndut hanya terkekeh menjawab rengekan kami. Hanya saus, kecap, cuka dan sambal yang ia bisa biarkan kami pakai sepuas hati, sisanya tidak.

Usaha menambah porsi itu memang perjuangan tersendiri. Harga satu mangkuk bakso Mas Ndut Rp. 500,-. Padahal uang jajan harianku hanya Rp. 500,- dan aku harus mengeluarkan uang Rp. 400,- untuk naik angkot bolak-balik dari rumah. Bagaimana mungkin aku bisa menerima porsi pemberian abang bakso dengan PD tingkat 90 tanpa perjuangan setelah menahan keinginan makan baksonya selama lima hari? Bagaimana mungkin bisa membiarkannya dengan semena-mena memberikan porsi minimumnya setelah lima hari tidak membeli gorengan barang sebuah? Tidak mungkin!

Cerita tentang Mas Ndut berakhir bersamaan dengan saat aku mengakhiri cerita SMA-ku. Mas Ndut sekarang tidak lagi berjualan di jalan raya depan sekolahku. Ia sudah punya kios di ruko sepanjang jalan utama di kotaku. PD-nya naik jadi 99 apalagi kalau berhadapan dengan anak berseragam abu-abu. Pembelinya sekarang ibu-ibu yang kelaparan di tengah acara shopping mereka. Ibu-ibu yang tidak perlu menunggu satu tahun dan menabung lima hari untuk dapat menikmati semangkuk bakso Mas Ndut.

Agustina Purnomo

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.