Mungkin topik ini sedikit kontroversial mengingat pengertian gender adalah “[u]konstruksi sosial budaya[/u] atas perbedaan laki-laki dan perempuan” murni hanya konstruksi sosial budaya tanpa tambahan perbedaan alamiah laki-laki dan perempuan. Menurut pendapat ini, perbedaan laki-laki dan perempuan hanya berkisar pada perbedaan kemampuan menyusui, melahirkan, hami, dan haid atau hanya berkisar pada kemampuan reproduksi laki-laki dan perempuan. Namun di sisi lain ada pendapat bahwa secara alamiah laki-laki dan perempuan memang berbeda.

Beranjak dari kepenasaranan ini, saya melakukan penelusuran literatur mengenai perbedaan alamiah laki-laki dan perempuan. Ternyata secara alamiah perempuan dan laki-laki memiliki hormon yang berbeda atau hormon yang sama dengan konsentrasi yang sama. secara singkat, perbedaan hormonal tersebut mempengaruhi perbedaan fisik laki-laki dan perempuan, perbedaan kemampuan reproduksi dan perbedaan potensi mental emosional serta potensi kecerdasan tertentu yang menjadi spesifik untuk laki-laki dan perempuan (misalnya, perkembangan otak kanan perempuan menyebabkan perempuan lebih mudah dengan pekerjaan yang mengandalkan unsur ketelitian dan sulit untuk pekerjaan yang mengandalkan kemampuan memperhitungkan ruang dan tempat, membaca peta dan memarkir mobil, juga perhitungan angka dan gambar yang cukup rumit yang berdasarkan penelitian lebih dikuasai laki-laki daripada perempuan. Laki-laki dinyatakan lebih agresif, berani mengambil resioko dan keputusan cepat, sementara perempuan cenderung berdikap mengayomi, mengumpulkan pendapat, dan memfasilitasi. Ini menyebabkan pekerjaan yang menuntut kemampuan untuk melihat hal secara holistik, mengambil keputusan secara cepat, mengandalkan perhitungan arah dan gambar yang rumit, membaca peta atau menyetir mobil lebih banyak dilakukan laki-laki sementara pekerjaan yang memerlukan ketelitian, ketelatenan dan kasih sayang lebih banyak dilakukan perempuan. Ini pula yang menyebabkan perempuan dipercayai untuk mengerjakan tugas administratif dan pelayanan dan pendidikan sementara laki-laki pada posisi pemimpin.
Benarkah hanya laki-laki yang bisa memimpin?

Selain menurut hasil penelitian. Dr. Biron Afandi, SpOG dari bagian obstetri dan ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)bahwa dampak bekerjanya hormon-hormon ini berbeda antara perempuan satu dengan perempuan lain, perpspektif kepemimpinan juga telah mengalami pergeseran. Jika dulu cara top down merupakan pola kepemimpinan, maka sekarang pola bottom up dianggap sebagai cara kepemimpinan ideal. Pemimpin tidak hanya identik dengan orang yang mampu mengendalikan, menentukan arah dan memberi contoh namun juga diharuskan mempunyai kemampuan membangkitkan partisipasi, menggali gagasan dan mendorong agar orang yang dipimpinnya menjadi pelaku utam bukan sekedar pengikut.

Jika kajian hanya dilakukan sampai sini pun, perempuan secara alamiah memiliki potensi untuk menjadi pemimpin, pemimpin partisipatoris, pemimpin yang menggunakan pola bottom up dan pemimpin yang mampu memfasilitasi organisasi untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin baru. Secara alamiah, perempuan mampu untuk memimpin.

(Catatan yang sama dapat diakses di www.forumpsw-psg.org)

Agustina Purnomo

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.